LAGU ITU Lagu itu mengalun lembut, membelai jiwa, sejuk indah dan biru. Lagu yang tercipta dari rangkaian nada yang sendu, tapi tidak menyayat, lagu yang damai tepatnya, bukan sendu bukan pula nelangsa. Lagu yang menggiring suasana menuju alam bebas, alam lain yang juga terasa merdu. Sejenak aku melamun di ujung sungai yang mengalirkan nada-nada itu, sungai yang bernada, sungai di mana aku kini berada, sungai yang memperdengarkan lagu itu. Kuraih ranselku dan bergegas menuju arah di mana lagu itu terdengar. Lagu itu terus mengalun dalam bayangan pohon, dalam tetesan embun dan dalam kicauan burung. Aku tetap berjalan menyusuri sungai ini, mengalir begitu saja sebagaimana sungai itu mengalir. Jauh aku telah berjalan dan lagu itu masih tetap terdengar, kadang melengking tinggi, kadang mendesah lemah. Namun nada-nada itu tetap menggetarkan rongga jiwaku, dan nada-nada itu kini telah begitu akrab di benakku, nada-nada itu menjelma menjadi serangkaian peristiwa yang telah aku lalui. Aku menjadi teringat apa-apa yang telah kukerjakan. *** Kemarin aku masih berada di sebuah bis yang menuju arah pegunungan di daerah Dieng. Sebuah dataran tinggi yang terletak di sebelah utara kota Wonosobo, dataran tinggi berpemandangan indah, namun sayang sebagian hutannya telah rusak, seperti hutan-hutan lain di negeri ini. Aku teringat waktu itu, waktu aku turun dari bis itu, seorang kakek tua menatapku penuh keheranan, sepertinya dia mencoba mengingat sesuatu yang pernah hadir di masa lalu. Dia tersenyum lembut menatapku, tatapannya bijaksana lalu menyalamiku. “ selamat pagi anak muda, dari mana?” aku yang masih terbingung-bingung, merubah sikapku dan berusaha menjawab. “ selamat pagi pak, saya dari Bandung.” Jawabku singkat. “ oh, dari Bandung, mau jalan-jalan ya nak?” “ ya begitulah pak.” Lalu dia kembali menatapku dalam-dalam seolah aku ini sesuatu yang berharga baginya. “ hati-hati” tiba-tiba ia berucap lalu pergi meninggalkanku begitu saja. Tapi apalah artinya, aku sendiri tak mau berpusing-pusing memikirkannya. *** Lagu itu terus mengalun, kadang terdengar jelas kadang samar-samar tertiup angin gunung yang begitu dingin di pagi ini. Aku tetap berjalan mengikuti arah nada-nada itu. Kadang terdengar teriakan kera-kera yang bergelantungan dari pohon yang satu ke pohon yang lain, sambil menunjukkan akrobat yang sudah menjadi keahliannya. Kadang juga terdengar desisan ular diantara batu-batu besar yang terdapat di sungai. Aku tetap berjalan di hutan ini, hutan yang tidak lebat lagi, bukan seperti hutan di Kalimantan, hutan ini hutan di pulau jawa ini sudah tidak ada yang perawan lagi. Tapi semua yang ada disini tetap terasa asing bagiku, sebagaimana aku merasa asing terhadap diriku ini. Nada-nada itu semakin terdengar jelas. Lalu aku terbayang wajah seorang wanita yang selalu hadir dalam lamunanku, wajah itu selalu ada disana. Dan dalam alunan nada-nada itu kulihat dia tersenyum kepadaku, senyum yang berbeda dengan yang ada di lamunan, senyum yang seolah baru saja kulihat, senyum yang………ah tidak mungkin, senyum itu seperti senyuman kakek tua di terminal kemarin pagi tapi mungkinkah? Mungkin atau tak mungkin selalu saja ada kemungkinan, yang menyebabkan semuanya berada dalam ketidakpastian. Dan kini aku pun tidak tahu pasti di mana aku berada, dan wanita itu bukankah tadi ada disana, di pingir sungai itu, diantara pohon dan batu besar itu, menatapku dan tersenyum. Tapi kemanakah perginya ? ah aku pikir itu hanya ilusi alam yang biasa terjadi di tempat terbuka seperti ini, dan lagipula aku sendiri disini, mungkin pula itu lamunanku, bukankah aku selalu melamunkannya. *** Bulan September waktu itu, ketika aku begitu dekat dengan wanita itu, wanita bernama Dian, Dian Anggraeni tepatnya. Aku dekat dengan dia karena aku dan dia sama-sama seorang panitia penerimaan mahasiswa baru, walaupun sebenarnya aku telah kenal dia sebelumnya, dan aku juga telah begitu dekat dengan dia, tapi tidak disini, tidak di alam ini tapi di alam mimpi. Oleh karena itu, begitu aku dekat dengan dia maka aku berusaha untuk menyampaikan apa yang aku rasa dan apa yang aku alami di alam itu, tapi terlalu susah untukku mengutarakan semua itu, aku tidak ingin kedekatan ini akan berubah jika aku mengatakannya. Aku memang tak tahu menahu hubungan seperti ini, hubungan dua jenis yang berbeda. Yang aku tahu jika rasa itu ada, ya memang sudah kodratnya demikian, dan aku memang tidak begitu peduli dengan hubungan seperti itu, aku tidak peduli, walaupun terkadang ingin merasakannya. *** Nada-nada itu terus terngiang dalam setiap langkahku, yang tak juga kuketahui di mana berhentinya. Dalam hutan yang tak lagi lebat ini, aku sendiri, benar-benar sendiri. Tapi tak juga kurasakan kesendirian itu, toh aku telah terbiasa sendiri. Aku benar-benar tidak peduli dengan kerasnya batu yang saling menonjol angkuh seolah ingin saling membuktikan bahwa dialah yang terkuat, aku tak peduli. Yang aku pedulikan hanya lagu itu, hanya nada-nada itu, yang membawaku terus berjalan, menyeberangi sungai, hutan, lembah dan celah-sempit yang ada di tempat ini, dan juga yang ada dalam otakku. Nada-nada yang membawaku menyeberang melintasi masa lalu, melintasi ruang dan waktu. *** Aku berusaha mengekang rasa itu, tapi begitu susah. Dan akhirnya pada suatu malam di bulan Oktober aku ungkapkan itu semua. Semua yang ada dalam hati ini, tapi dia hanya terdiam. “ benarkah semua yang kau katakan itu ?” dia bertanya penuh keraguan. “ benar, itu juga kalau kamu percaya.” Aku menjawab tanpa ragu lagi, karena memang sebenarnya demikian. “ aku percaya sama kamu, tapi untuk ke sana, kayaknya aku perlu pikir-pikir dulu.” Dia berkata penuh ketenangan. “ ya baiklah, tapi aku benar-benar minta maaf, kalau ternyata aku seperti ini.” “ sudahlah, kenapa mesti minta maaf, itu suatu hal yang wajar kok.” Nada bijaksana terlihat dari suaranya. Dan sejak saat itulah dia mulai sering hadir dalam alam khayalku, lebih sering dari sebelumnya, dan juga lebih nyata dari sebelumnya. Sebulan telah berlalu, dan posisiku masih seperti dulu, tetap dan tak berubah. Mungkin sikapku sedikit berubah, tapi semuanya biasa saja, dan anehnya, aku yang dulunya tak pernah mempedulikan hubungan seperti yang aku harapkan saat ini, kini menjadi begitu peduli, begitu mengharapkan. *** Nada-nada semakin mendekat, menggelitik usik dalam telinga, dalam hati, dalam labirin otak, dalam plasma darah, dalam semua………… Aku masih berjalan seorang diri disini, di hutan ini. Sepasang burung hinggap di atas dahan pohon yang menjulur ke arah sungai, saling bertatapan dan berkicau bersahut-sahutan, indah dan tampak mesra. Namun aku tetap tidak peduli, hanya nada-nada itu yang menarikku saat ini. Beberapa tupai melompat-lompat coba menarik perhatianku, tapi aku tetap tidak peduli. Aku pasangkan telingaku dalam-dalam, agar bisa mengetahui dari arah manakah datangnya nada-nada itu. Aku terus berjalan. *** Tadi pagi sebelum aku berangkat kesini, sepertinya ada seseorang yang mengawasiku, aku yakin karena pandangan seperti ini pernah aku rasakan sebelumnya, ya pandangan seperti ini aku telah mengenalnya. Tapi siapa ? aku jadi bingung, dan aku yang tidak pernah ribut dengan hal-hal semacam itu, menjadi gelisah, gelisah yang teramat sangat. Lalu dengan susah payah aku membangun keyakinan bahwa itu hanyalah perasaanku saja, perasaan yang bukan-bukan. Setelah aku yakin bahwa tidak ada apa-apa, aku berangkat menuju tempat ini. Setelah malamnya aku tertidur nyenyak di kamar losmen itu, di ruangan berukuran 6x4 yang berisikan televisi, perabot tua, dua buah tempat tidur, kamar mandi dan juga dilengkapi tungku pemanas ruangan. Pada malam harinya sebelum aku tidur, aku memang telah mempersiapkan semua peralatan yang akan aku pakai pada esok paginya. Dan selama dalam perjalanan kesini, aku melewati beberapa perumahan penduduk, dan herannya tiap kali orang yang berpapasan denganku, selalu memandang aku dengan tatapan yang sama, ya tatapan yang benar-benar sama dan telah kukenal sebelumnya, tapi tatapan siapa ? aku kini jadi peduli memikirkan tatapan itu. Aku mencoba mengingat-ingat tatapan siapakah yang seperti itu, lama aku berpikir dan baru kusadari ternyata tatapan seperti itu pernah kulihat sebelumnya, ya tatapan kakek di terminal kemarin pagi. *** Matahari tepat berada di tengah-tengah ketika nada-nada itu tiba-tiba lenyap digantikan keheningan yang luar biasa. Keheningan yang membawaku menyadari ternyata aku benar-benar sendiri, dan aku yang telah terbiasa sendiri ini menjadi ketakutan, bukan takut karena aku seorang diri disini, tapi takut dengan kesendirianku yang selalu menyendiri, seperti sekarang ini. Aku hentikan langkahku, tak tahu lagi harus kemana kulangkahkan kakiku, aku berhenti dan duduk di atas sebuah batu yang tampak paling menonjol diantara batu-batu yang lain. Aku terdiam sendiri disitu, kutatap air sungai yang masih jernih itu, kejernihan yang membiaskan keinginan untuk kembali seperti ketika mata kita benar-benar jernih, kejernihan mata seorang bayi. Aku tetap terdiam disitu merenungi kesendirianku, kenapa aku selalu ingin sendiri ? dan berulang kali aku mencoba untuk bisa hidup dengan orang lain ternyata tetap tidak nyaman tidak seperti ketika aku sendiri. Memang pernah juga aku bisa hidup berdampingan dengan orang lain, tapi itu hanya bertahan sebentar dan aku selalu merindukan kesendirianku. Dan oleh karena itu kini aku lebih senang mengembara, aku selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain dari satu hutan ke hutan lain, tapi masih dalam lingkup pulau Jawa ini. *** Selama sebulan itu aku benar-benar mengharapkan dia ada disini, disisiku bukan dalam alam mimpiku. Tapi sebulan telah berlalu dan tidak ada jawaban yang pasti, aku selalu berpikir “ apa sih susahnya mengatakan ‘ya’ “. Tapi ternyata memang tidak semudah yang selama ini aku bayangkan, aku yang tadinya berusaha berubah menuju sesuatu yang lebih baik justru terpuruk dalam ketidaktentuan sikap. Aku jadi lupa kalau aku adalah aku, dan tidak seharusnya aku berubah karena orang lain, aku harus berubah karena diriku sendiri. Dan aku menyadarinya setelah terlambat, karena apa yang aku takutkan benar-benar terjadi, hubungan ini akan memburuk. Pada suatu waktu aku beranikan diri menanyakan hal itu kepadanya, “ Yan, bagaimana kelanjutannya ?” aku berusaha sekuat tenaga untuk mengucapkannya. “ bagaimana ya, mmmmhhh kayaknya tetap seperti dulu deh, aku belum begitu mengenal kamu.” “ tapi aku udah capek,Yan.” Secepat itu pula aku menutup mulutku, karena aku menyadari bahwa aku telah salah ngomong, tapi semuanya sudah terlambat. Dan raut mukanya berubah, lalu dia bilang, ya dia bilang kata itu, kata yang membuatku meluncur jatuh, jauh ke bawah tanpa daya, aku benar-benar terjatuh………….. *** Selama perjalanan ini, mata itu terus menatap aku sampai aku keluar dari daerah permukiman, dan sampai aku berada di hutan. Di mana aku bertemu dengan seorang kakek-kakek pencari kayu bakar, “ selamat pagi kek .” sapaku “ boleh tanya jalan yang menuju sungai yang ke arah mana ya kek ?” tanyaku langsung. Tapi kakek itu hanya terdiam lama menatapku. “ kek ada apa ?” aku bertanya keheranan. Dan dia tergeragap seolah terbangun dari sebuah mimpi. “ oh, ada apa ya nak?” dia balik bertanya. “ jalan menuju sungai yang ke arah mana, ya kek” aku mengulangi pertanyaanku. “ oh, ke arah sungai ? memang ada perlu apa ?” kakek itu malah bertanya padaku. “ eh…Cuma mau jalan-jalan kek” sekenanya aku menjawab, karena aku memang tak tahu sebenarnya aku mau apa. “ Cuma jalan-jalan?” tanyanya keheranan. “ kalau begitu hati-hati” dia kembali terdiam dan menatapku dengan pandangan yang itu-itu juga. Lalu dia menunjukkan jalan itu “ dari sini lurus terus, nanti jika kamu melihat ada pohon yang posisinya miring, seperti mau rubuh, belok ke kanan. Dan di depannya ada jalan turun, ikuti saja jalan itu.” “ terima kasih kek.” Jawabku. Ketika aku mau melangkahkan kakiku, dia memegang pundakku, lama dan erat seolah mau melepas kepergian saudara dekatnya, dan pandangan itu kembali terulang, lalu dia berbisik sangat lemah, “ hati-hati, nak” dan perlahan-lahan tangannya mulai lepas dari pundakku. Aku kembali meneruskan perjalanan dengan seribu pertanyaan, “ ada apa antara diriku dengan orang-orang ini ?” aku menjadi bingung, seolah mereka tahu aku tidak akan pernah kembali ke tempat mereka. Dan yang menjadikan aku bingung, kenapa mereka mesti khawatir toh aku seorang diri di sini, ya sendiri. *** Nada-nada itu kembali terdengar tetap lembut mengalun seperti sebelumnya, aku tergugah dari lamunanku, aku berdiri dan melompat-lompat diantara batu di sungai ini, dan kembali kuikuti suara itu. Tapi ketika aku menjejakkan kakiku di tanah, wanita itu kembali muncul, Dian ada di depanku menatap lurus mataku, dengan pandangan yang semakin kuyakin seperti pandangan kakek di terminal, orang orang di pemukiman itu, dan kakek pencari kayu bakar. Dia menatapku tanpa bersuara sedikitpun, hanya wajahnya tampak pucat, dan sedih. Aku mencoba mengejarnya, tapi belum sempat aku melangkahkan kaki dia telah menghilang entah kemana, tanpa bekas dan aku kembali diam. *** Sejak saat itu, Dian tak lagi seperti dulu, kami jadi jarang ngobrol apalagi bercanda. Sepertinya dia telah kehilangan kepercayaan pada diriku, dan aku berusaha meyakinkan dia bahwa aku baik-baik saja. Tapi dia menjadi tidak peduli denganku, dan aku pun hanya bisa menerima. Ternyata tidak mudah mengembalikan kepercayaan yang telah hilang, tidak segampang ketika mengkhianati kepercayaan itu. Dan memang aku akui aku yang salah dalam hal ini, biarlah toh maaf itu telah terucap, dan aku kembali menjadi diriku sendiri. Tapi bayangannya tetap ada di dalam otakku sampai hari ini. *** Lagu itu semakin jelas terdengar, nada-nada itu semakin nyata bunyinya, aku jadi tidak peduli dengan apa yang baru saja terjadi. Seperti terhipnotis diriku melangkah menuju suara itu, dan semakin jelas suara itu terdengar, semakin sering bayangan-bayangan itu muncul. Bayangan Dian berganti dengan bayangan kakek di terminal dan berganti dengan bayangan orang-orang di pemukiman, lalu berganti dengan bayangan kakek pencari kayu bakar. Bayangan itu terus menerus berganti dan tatapan mereka tetap sama. Kadang mereka berucap “ berhenti, jangan kau teruskan jika kamu ingin kembali.” Atau ucapan, “ jangan kesana nanti kamu mati.” Tapi aku tetap tidak peduli, aku tetap mengikuti kemana suara itu berbunyi, aku hanya ingin mengetahui siapa yang memainkan lagu yang begitu indah itu. Lagipula kenapa mesti takut mati, jika kematian itu memang harus terjadi. Bukankah kematian itu tidak ada ketika kita masih hidup, dan jika kematian itu datang maka hidup itulah yang tidak ada. Nada-nada yang menyeret langkah kakiku itu kini sangat jelas terdengar, dan aku melihatnya, aku melihat dia yang memainkannya, dia begitu menghayati. Aku terbawa dalam alunan itu bersama semuanya, dan bayangan-bayangan itu terus berkelebatan dalam benakku. Lagu itu membawaku pergi melewati masa lalu, melewati ruang dan waktu dan menempatkanku disini saat ini, ya disini.