Kautikam Aku Persis di Jantung MERAH di langit barat telah lenyap ketika kita sampai di resto yang kaupilih sebagai tempat pertemuan. Cuma kita berdua dan karena itu kita pilih meja-kursi terpojok. Jauh dari panggung musik yang terlampau berisik. Jauh dari orang-orang yang makan sambil tertawa-tawa riang. Di mataku, terus terang, mereka adalah sekelompok manusia tanpa persoalan tanpa beban. Tidak seperti aku. Tidak seperti kamu. Tidak seperti kita. Paling tidak, pada malam itu. Kaupesan mi sea food yang entah bernama apa. "Makanan istimewa di resto ini," katamu meyakinkanku yang memang selalu ragu setiap kali berhadapan dengan daftar menu. Daftar yang tidak pernah tidak membingungkanku. Nama-nama asing, nama-nama aneh. Dan biasanya meneror lidah dengan rasa yang tak keruan pula. Nelayan memandangku dengan tatapan dan senyum mendesak. Cantik tapi suka memojokkan. Batinku sebel. Tapi, demi kau yang selama ini kusetiai, aku mengangguk kalah. "Sama," kataku. "Minumnya, Mas?" "Sama." "Aku belum pesan..." selamu buru-buru. "Ya, sama, aku juga belum pesan," kataku asal-asalan. Kau tertawa tapi terdengar sumbang. Pelayan itu tersenyum tapi terasa tak lebih sebagai ejekan. Tak ada simpati atau apalagi empati di bibirnya yang penuh itu. Bibir yang sangat sanggup menggetarkan syahwatku. "Es kopyor durian..." katamu setelah (pura-pura kukira) melihat daftar menu. .."Mas?" Pelayan cantik itu, gila, lagi-lagi bertatapan dan bersenyum sangat mendesak. "Es durian kopyor." "Maaf Mas, yang kami sediakan es kopyor durian, bukan es durian kopyor." "Apa bedanya? Dicampur semua kan?" Kau tertawa lagi. Terdengar sumbang lagi. Pelayan itu tersenyum tapi juga sama dengan tadi, terasa tak lebih sebagai ejekan bagiku. Paling tidak, pada malam itu. SAMBIL menunggu pesanan datang, kausulut rokok putih kesukaanmu. Kauisap nikotin dengan penghayatan pemadat sejati. Sungguh, sebenarnyalah aku tidak tahu apa isi kepalamu malam itu. Yang kutahu cuma satu: kau mengajakku bicara tentang kita. Bagian mana yang akan kaubicarakan, aku juga tidak tahu. Maka aku menunggu. Tak akan pernah aku memulai sesuatu yang tak kuketahui. Angin malam di Semarang atas mengirimkan hawa dingin tapi untunglah tidak menggigit, sehingga kita tak perlu berimpitan untuk saling menghangatkan seperti yang biasa kita lakukan ketika disergap gigil tak tertahankan. Untunglah karena malam itu aku benar-benar tidak sedang dalam keadaan siap untuk bermesra-mesra. Aku jauh lebih siap untuk pulang dan tidur. Pelayan cantik dengan bibir penuh yang sangat sanggup menggetarkan syahwatku itu datang membawa pesanan ketika rokok putihmu nyaris habis terbakar. Kaubuka mata sambil mengembuskan asap terakhir dan tersenyum ramah. Dia membalas dengan senyum yang tak kalah ramah tapi jelas pura-pura. Senyum profesional kukira. Apalagi, ketika melihatku sekilas, dia sembunyikan senyum ramah itu di balik bibirnya yang.... ah, kau pasti sudah tahu. "Makan dulu, ngobrol dulu, atau makan sambil ngobrol?" "Ngobrol sambil makan saja," jawabku meski tahu pertanyaanmu pertanyaan retoris belaka. "Oke," katamu sambil mengurai dan memotong mi dengan garpu. Cuma dalam hitungan detik, kau telah mengunyahnya dalam kelahapan yang belum pernah kubayangkan. Aku tiba-tiba merasa kenyang hingga yang kulakukan hanya mengurai-urai mi dan sesekali menikmati es kopyor durian atau es durian kopyor. "Apa sebenarnya yang kauingin bicarakan di sini?" "Seminggu aku gelisah dan berpikir tentang kita. Baik kita sekarang maupun kita pada hari-hari dan tahun mendatang. Aku ingin kita selalu bersama tapi selera makan kita berbeda. Kalau tak kupaksa, kamu pasti pilih ke warung hik dan makan nasi kucing, lalu kita ketemu di suatu tempat tanpa acara makan bersama." "Begitulah aku. Begitulah kamu. Begitulah kita." "Kenapa mesti begitu kalau sebenarnya kita bisa bersama, selalu bersama?" "Kau tahu caranya?" "Kita menikah." Aku nyaris menelan es batu karena kau mengajukan usul yang jelas-jelas mustahil. Bukankah kau tahu belaka selera makan kita berbeda? Bagaimana mungkin kita berkomitmen untuk makan bersama di satu meja, setiap hari, setiap waktu? Lagi pula, ini yang paling bikin usulmu itu sangat mustahil, kita masih tinggal di sini, di negeri yang belum melazimkan pernikahan sejoli . "Aku tahu yang kaupikirkan," katamu. "Tak usahlah ada pesta. Diam-diam saja. Yang utama dalam pernikahan ini cuma kita. Tak perlu saksi mata yang beramah-ramah karena kita hidangkan aneka makanan istimewa di hadapan mereka." "Tetap mustahil." "Kenapa?" "Mi yang kaubilang istimewa ini belum juga sampai di lidahku." "Ah, kaubisa belajar merasakan keistimewaannya besok atau lusa. Selama ada komitmen, apa pun bisa kita nikmati bersama, bahkan masakan paling kacau dan tak enak sedunia." "Kau bisa makan nasi kucing?" "Bukankah aku pernah menemanimu di warung hik?" "Ya. Dan kau memberikan nasi bungkus itu pada kucing!" Kau terdiam. Mungkin kau mengira aku telah lupa pada salah satu kejadian paling menyakitkan dalam hidupku itu. Tidak. Aku tidak pernah lupa pada hal-hal yang menyakitkan. Aku memang mudah percaya dan bisa setia. Tapi begitu tersakiti, apalagi terkhianati, dendamku tidak akan bisa habis dimakan waktu. "Aku juga akan belajar untuk menikmati apa yang membuatmu nikmat," katamu kemudian dengan nada yang jauh dari yakin. Aku tahu itu karena hafal benar, kau memang lebih suka diikuti daripada mengikuti. Kau lebih senang dituruti ketimbang menuruti. Kecuali jika kau melihat ada keuntungan yang lebih besar di balik keharusan mengikuti atau menuruti itu. Juga ketika kau tak punya nyali untuk menawar, apalagi melawan. Malam itu, aku memutuskan untuk menolak ajakanmu. Jangankan menikah, sekadar hidup bersama serumah pun aku ogah. Maka kukatakan apa yang memang seharusnya kukatakan. "Maaf, aku tak bisa. Aku tak akan sanggup menanggung derita pemaksaan selera. Selama ini, aku setia padamu. Dan kau pasti tahu, aku bakal makin setia jika kita menikah. Sekarang aku belum bisa makan mi ini, tapi pasti kumakan jika kita telah benar-benar hidup bersama. Masalahnya, aku tak yakin kau akan setia sepertiku. Aku tak yakin kau mau makan nasi kucing kesukaanku." Kau tersenyum bijak. Mengangguk-angguk. Meraih dan menggenggam tanganku. "Aku suka gayamu...." Sembari berkata begitu, kaukecup punggung tanganku. "So?" "Kita menikah atau...." "Atau apa?" Kau geser posisi dudukmu. Kita tak lagi berhadapan. Kita berdampingan atau berimpitan kini. Kemudian kaurangkul aku. Mesra. Rangkulan yang teramat mesra. Kemudian lagi, kau berbisik. "Aku suka gayamu...." "Jadi?" "Kita menikah atau...." Aku tak mau lagi bertanya. Aku menunggu saja kalimat yang kaugantung itu. Selama apa pun. "Atau.... Ini!" Jreb! Kautikam dada kiriku dengan garpu. Tembus ke jantung. Sekali. Kaucabut. Darah memancar. Lalu kautikamkan garpu itu berkali-kali. Tak kaupedulikan teriakanku yang menelan seluruh suara di resto itu. Tak kaupedulikan orang-orang yang tersentak dan secepat entah apa mengerumuni kita dengan teriakan takut campur marah. Tak kaupedulikan darah yang muncrat ke muka kita. Bahkan menjadi semacam saus kental manis bertabur di atas sepiring mi sea food yang belum sejulur pun kutelan. Tak kaupedulikan apa saja kecuali terus menikamku persis di jantung. Berkali-kali-kali-kali-kali! Sakit. Ya, aku sakit dan karena itu aku menjerit. Tapi karena kau begitu tak peduli, tak sedetik pun dendam merebak di hatiku. Aku justru jatuh iba padamu. Betapa kau telah diperbudak keinginan dan nafsumu sendiri. Betapa kau telah benar-benar lupa, perbedaan tak selalu bisa diselesaikan di meja makan, karena hidup ini tak melulu soal makan dan makanan. Ada yang lebih mulia, sungguh, ada yang lebih mulia: menghidupi dan menyetiai perbedaan! Karena itu, aku tak bakalan mati hanya karena tusukanmu. Sebanyak apa pun, setepat apa pun, di jantung.